Manajemen Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

 

 

 

Manajemen Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

Manajemen Keselamatan & Kesehatan Kerja bisa dipandang dari berbagai sudut pandang. Antara lain dari sudut sistem manajemen, regulasi, manajemen risko, bahkan dari sudut praktek yang teknis. Cara memandang K3 sering diibaratkan seperti beberapa orang buta mengenali seekor gajah. Orang yang memegang kaki gajah, dia akan mengatakan bahwa gajah berupa balok yang besar. Yang memegang telinga mengatakan bahwa gajah berupa lembaran luas dan pipih. Masing-masing yang dikatakan orang buta itu adalah benar, tetapi tidak lengkap karena keterbatasan sudut pandangnya. Sementara orang yang berpenglihatan normal dan lebih luas dia akan menggambarkan gajah lebih lengkap yang merupakan perpaduan dari semua yang dikatakan orang buta. Hal seperti ilustrasi diatas juga terjadi pada cara memandang k3. Ada yang mengatakan K3 itu adalah memakai APD (Alat Pelindung Diri), sehingga bila telah memakai APD dipandang sudah menerapkan K3 dengan banar. Ada juga yang beranggapan k3 terdiri dari slogan-slogan, karena itu banyak ditemukan yel-yel atau slogan-slogan. K3 juga sering dipandang sebagai administrasi, terutama tentang SMK3 (Sistem Manajemen K3), karena itu Audit SMK3 menjadi tumpuan dan pencapaian yang diharapkan. Bahkan sampai saat ini masih ada kita temukan bahwa urusan K3 dipandang sebagai urusan profesional K3 semata. Praktek yang seperti ini dilapangan kerja membuat pemahaman K3 menjadi segmental, partial. Hal ini yang perlu digaris bawahi. Dan selanjutnya silahkan rujuk lebih mendalam pada PP 50/2012 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3). Manajemen Keselamatan & Kesehatan Kerja Manajemen Keselamatan & Kesehatan Kerja dimuali dari adanya Hazard. Setelah itu secara hirarki dilanjutkan seperti dibawah ini:

  1. Manajemen Risiko
  2. Sistem Manajemen K3
  3. Penegakan terhadap tuntungan regulasi
  4. Penguatan budaya keselamatan dan kesehatan kerja.

Manajemen Risiko K3 Kekuatiran utama didalam K3 adalah timbulnya kerugian, baik berupa kecelakaan maupun gangguan kesehatan pekerja. Semua kerugaian tersebut bersumber dari adanya hazard di pekerjaan. Manajemen risiko k3 menggali segala kemungkinan mulai dari tentng hazard, apa yang akan dirugaikan, bagaimana hal itu bisa terjadi, besarnya kemungkinan, dan risiko yang mungkin diakibatkan, serta sampai kepada bagaimana cara mencegahnya. Tanpa adanya hazard, maka kerugian tidak akan timbul. Karena itu hazard dan manajemen risikonya merupakan hal yang pertama dan utama dari rentetan upaya manajenem didalam K3. Dia juga inti didalam manajemen K3, sebab tanpa dia manajemen k3 tidak berarti apa-apa. Bisa dikatakan kecelakaan dan gangguan kesehatan yang timbul merupakan kegagalan dalam manajemen risiko itu sendiri. Perusahaan selayaknya menyediakan segala bentuk kelengkapan resources untuk manajemen risiko k3. Tentu dimulai dengan mengembangan kompetensi SDM yang handal. Tanpa kompetensi akan sulit bagi perusahaan menggali dan memahmi dengan baik segala kemungkinan risiko yang akan timbul. Mudah dibayangkan bila pemahaman risiko dilapangan rendah, maka kecelakan dan gangguan kesehatan tidak bisa dicegah. Berkaitan dengan kehandalan diatas, hasil penilaian risiko k3 yang tertuang kedalam tabel HIRADC (IBPR, HIRA) tak boleh salah dan / atau gagal dalam memahami detil detil isi sel yang tertera didalam tabel IBPR. Fault, error dalam hal ini berarti kecelakaan. Bukan karena ada kelemahan pada SMK3, penerapan regulasi dan budaya menimbulkan kecelakaan, tetapi kecelakaan itu terjadi karena gagalnya manajemen risiko. Manajemen risiko yang gagal akan menimbulkan kecelakaan, gangguan kesehatan (dan fatality) Sistem Manajemen K3 (SMK3) Sistem manajemen K3 (SMK3) merupakan manajemen yang melibatkan sistem di perusahaan untuk keperluan menjalakan K3 dengan baik. Manajemen sistem dibuat / dibangun dasarnya adalah melalui langkah melakukan proses manajemen risiko. Karena itu SMK3 tiap-tiap perusahaan seharusnya berbeda satu sama lain, sebab hasil kajian risikonya (yang dihasilkan dari proses diatas) berbeda beda. Dengan kata lain Sistem Manajemen K3 (SMK3) yang dibuat berbasis risiko ditempat kerja bermakna bahwa sistem manajemen di perusahaan mempersiapkan diri memberikan dukungan pada manajemen risiko yang kita sebut sebagai inti dari manajemen k3 diatas. Sistem manajemen k3 (SMK3) suatu perusahaan tidak bisa di copy paste dari perusahaan lain. Dia dibangun melalui kajian awal, yaitu dari proses risk asssessmen pada manajemen risiko diatas. Penegakan Regulasi K3 Disini tak akan ditulis panjang panjang lebar mengenai regulasi. Pada intinya regulasi dibuat agar menjamin pelaksanan SMK3, Manajemen risiko pada tiap perusahaan yang dikenakan kewajiban. Regulasi merupakan tuntutan minimun yang harus dilaksanakan suatu perusahaan, sebutlah sebagai nilai batas lulus minimum. Dengan kata lain, bila perusahaan menerapkan K3 melebihi tuntutan minimum maka itu jauh lebih baik. Kerena itu perusahaan tertentu yang sudah berkembang baik dalam penerapan K3, mereka tidak lagi khawatir dengan tuntutan regulasi, sebab me   reka sudah menerapkan diatas tuntutan regulasi tersebut. Perusahaan yang tidak pernah tersangkut dengan sanksi regulasi tentu lebih baik. Didalam prakteknya, cukup banyak regulasi yang berhubungan dengan Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Semuanya harus dirujuk oleh perusahaan dan dipatuhi agar mencapai predikat lulus dalam penerapan K3. Penguatan Budaya K3 Nah ini topik berat. Untuk memahami sekilas tentang budaya k3, silahkan klik disini: SatuDua. Penekanan kita pada postingan ini adalah melihat bagaimana manajemen K3 di perusahaan secara makro, seperti yang terlihat pada urutan urutan diatas. Untuk mengembangakan manajemen k3, atau bila bertujuan ingin menekan angka risiko kecelakaan (kerja) dan gangguan penyakit (dan fatalitas), maka mulailahlah dengan membangun mengembahkan manajemen risiko terlebih dahulu. Hal ini perlu di garis bawahi, sebab bila tidak demikian maka upaya ingin menekan angka kecelakaan tidak akan efektif. Begitu juga dalam mengembangkan budaya K3. Mungkin ini terlihatnya bagus, prestise, tetapi bila fondasi fondasinya lemah maka budaya k3 tersebut hanya akan berhenti sebatas slogan. Menurut hemat saya, penuhilah terlebih dahulu 3 langkah diatas secara berturut turut. Dan finishingnya nanti dengan mengembangkan budaya K3 dengan langkah-langkah program pengembangan yang sistematis dapat dibuat. Atau bisa juga dibangun / dikembangkan dengan merancang program yang cukup intensif dan masif dan tentu berjangka panjang. Dan tentu ini memerlukan komitmen yang kuat, serta konsitensi yang tinggi. Salam K3 Chandra S