Matrik Risiko k3

Matrik Risiko k3

Matrik risiko k3

Postingan ini hanya memjelaskan prinsip dasar menghitung risiko secara kualitatif. Penjelasan detil dan contoh hasil perhitungan bisa ditemukan dalam banyak situs di internet.

Matrik risiko k3 adalah cara menentukan besaran atau nilai risiko k3 yang dituangkan kedalam susunan tabel. Formula menghitung besaran risiko k3 baik dengan cara kuantitatif maupun kualitatif adalah sama. Yaitu:

R = p x C

dimana:
p = probabilitas. Didalam pendekatan kualitatif p sering disebut sebagai likelihood.
C = consequencies.

Dalam penilaian risiko k3 cara kualitatif, nilai-nilai consequencies dan likelihat ditampilkan sebagai nilai yang bersifat kualitatif (kualitas), berupa urutan-urutan nilai. Lihat tabel matrik #1 dibawah. Yaitu consequencies: rendah, sedang, tinggi. dan likelihood: sering, sedang, jarang. Perkalian antara likelihood dan Consequenci dilakukan dengan menggunakan tabel perkalian, crosstab seperti dibawah. Hasil perkaliannya adalah risiko k3 yang kita cari, dan ada didalam sel-sel berwarna kuning.

 

matrik risiko k3, penilaian risiko k3, manajemen risiko k3

Gambar: Matrik risiko k3

Pada penilaian risiko k3 cara kualitatif yang perlu digaris bawahi adalah batasan (cut of point) dari nilai-nilai pada masing-masing variable. Cut of point tersebut seharusnya disepakati sehingga semua yang bersepakat didalam tim penilai, dan juga manajemen perusahaan sama-sama memiliki persepsi yang sama terhadap nilai-nilai yang dimaksud. Sehingga jelas batasan pada variabel-variabel:

  • Consequencies
    • deskripsi konsekuensi rendah, sedang, dan tinggi
  • Likelihood
    • deskripsi likelihood sering, sedang, jarang.

Sering juga didalam prakteknya, batasan-batasan tersebut di adopsi dari standar-standar yang biasa dipakai negara lin di dunia. Misalnya dari Eropa, Amerika, Australia, dsb. Dalam menggunakan standar asing, yang perlu diingat apakah batasan-batasan dari konsekuensi yang mereka sepakati sama dengan yang kita rasakan dan hadapi. Misal konkuesi Rp. 100 juta mereka katakan rendah. Maka apakah nilai Rp 100 juta tersebut juga dianggap rendah bagi perusahaan UMKM di negeri kita. Hal ini menyangkut perbedaan persepsi antara masyarakat dari negara kaya dan negara miskin.

Berkaitan dengan hal diatas sering ada pertanyaan, “standar dari mana yang baik gita gunakan?”. Menurut pandangan saya, yang terbaik untuk menilai tinggi, sedang dan rendahnya konsekuensi adalah menggunakan kesepakatan lokal.

Postingan yang mirip:

Penilaian risiko k3

 

 

Hazard Dan Klasifikasi Hazard

Hazard Dan Klasifikasi Hazard

 

Hazard Dan Klasifikasi Hazard
Identifikasi hazard yang gagal tidak akan menurunkan risiko k3

Serial Manajemen Risiko k3

Penilaian risiko k3 diawali dengan pengenalan hazard dengan baik dan benar. Tanpa itu penilaian risiko tidak bernilai apa-apa. Dalam prakteknya banyak variasi kekeliruan dalam pengenalan / identifkasi hazard. Kekeliruan ini harus diperbaiki. Dalam postingan ini dibatasi kekeliruan yang paling umum. Sekilas apa yang di identifikasi sebagai hazard tersebut tampaknya sudah benar, tetapi hakikatnya salah.

Hazard Dan Klasifikasi Hazard

Inilah klasifikasi hazard yang umum digunakan:

  1. Hazard fisik
  2. Hazard kimia
  3. Hazard listrik
  4. Hazard dinamik
  5. Hazard biologi
  6. Hazard ergonomi
  7. Hazard psikososial
  8. Hazard manajemen

Nama-nama diatas dimana banyak kalangan memahaminya sebagai hazard. Hanya 8 nama, terkesan mudah dan sederhana. Karena itu terkesan menyepelekan. Padahal kita tahu kalau 8 kelompok hazard tersebut di sebutkan masing-masing anggotanya, maka akan ada ribuan nama hazard.

Nama-nama diatas bukan hazard yang sesungguhnya. Nama-nama diatas adalah klasifikasi, nama kelompok dari hazard. Sehingga bila seorang asesor menulis didalam laporan asesmennya menenukan hazard kimia maka dipastikan itu salah, karena hazard kimia adalah nama kelompok kimia. Identifikasi hazard gagal. Anda bisa bayangkan ada berapa ratus jumlah bahan kimia. Akibatnya orang lain menduga duga zat apa yang dimaksudkan asesor. Disamping itu bila ingin mencari literaturnya untuk mendalami karakteristik hazard, pasti akan gagal. Literaturnya tidak akan ditemukan. Lain halnya bila asesor menulis H2S. Itu jelas, Begitu juga bila di identifikasi hazard nya sebagai: temperatur tinggi,  kabel listrik terkelupas, roda giling, covid 19, disain kursi terlalu rendah, stress, komitmen manajemen lemah. Itu jelas, bisa terhindar dari hal menduga duga.

Penilaian risiko k3

Sepintas kekeliruan diatas dinilai masalah kecil. Ini yang harus diubah fahamnya. Bahwa ini adalah masalah besar dan serius sebab manajemen risiko k3 memerlukan input yang benar sehingga bisa di kenali dan analisis. Seriusnya lagi kekeliruan ini terjadi pada kalangan luas. akhirnya dianggap suatu kebenaran.

Ajakannya adalah kita harus mengubah pemahaman tersebut secara bersama sama.

Salam K3
SSN

 

LINKS

Penilaian risiko k3

Tools penilaian risiko k3

Tools penilaian risiko k3

Antara Tujuan, Metode , Tools

Tools penilaian risiko k3. Serial manajemen risko k3.

Dalam keseharian, sebagai bagian dari proses manajemen risiko k3, banyak kerancuan dalam menyelidiki dan memecahkan masakah k3 di tempat kerja. Kita bisa mengkritisi tiga hal sebagai berikut:

  • Tujuan mengatasi permasalahan k3
  • Metode mengatasi permasalahan k3
  • Tools mengatasi permasalahan k3

Berikut adakah beberapa ilustrasi.

Ilustrasi pertama.

Seorang dokter menangani permasalahan penyakit pasien, Mereka memulai dengan menetapkan masalah pada pasien yang mereka sebut diagnosa sementara penyakit. Mereka memulai dengan wawancara pendek yang di pandu oleh konsep ke ilmuan yang ada di memori. Dilanjutkan dengan pemeriksaan tertentu dengan menggunakan peralatan (tools) yang sesuai temuan awal tadi.Setelah semua data yg diperlukan lengkap, mereka tetapkan permasalah pasien dengan diagnosa pasti. Dan kemudian diberikan tindakan pengobatan (kontrol).

Ilustrasi diatas terlihat urutan cara berfikir yang sistematis, mana yang langkah pertama, kedua, ketiga, dst, Juga terlihat kesinambungan dari langkah atau tahap pertama, kedua dst.

Kita bisa membayangkan bagaimana jadinya hasil kerja dokter bila dia menerima pasien, lalu tanpa ada gambaran awak lalu serta merta pasien mereka periksa di bagian mata, telinga, dada dan bagian lainnya dengan peralatan (tools) yang dimiliki. Hasilnya dapat dipastikan tidak akan tepat sasaran sebab tidak sejalan keluhan pasien dengan pemeriksaan, apalagi pengobatan yang diberikan.

Ilustrasi kedua.

Suatu ketika datang mahasiswa pasca sarjana kepada saya untuk bimbingan thesis. Dia datang dengan gembira dan mengatakan: “Pak, saya menemukan tools baru dan bagus dari internet. Saya yakin belum ada yang menggunakannya di Indonesia. Kira-kira apa saran bapak tema yang akan saya ambil”. Saya jawab santai: “Sesuka anda”. Dia tentu tidak puas dengan jawaban tersebut.Tiga kali menghadap dan bertanya selalu saya jawab “Sesuka anda”. 

Rupanya dia kewalahan dan akhirnya mengatakan: “Mungkin saya keliru pak, mohon petunjuk dan saya akan menyimak dari nol”. Akhirnya saya bercerita seperti ini: “Anda datang ke saya dan mengatakan ‘pak, saya baru beli mobil BMW paling mutakhir saat ini. Lalu anda tanyakan pada saya sebaiknya pakai mobil tersebut kemana”. Maka akan saya jawab: “Loh sesuka anda. anda yang beli tentu ada tujuannya.

Lain halnya bila anda katakan ‘pak di surabaya ibu saya sakit kritis, saya harus segera kesana, saya minta saran ke bapak caranya yang tercepat kesana”. Dengan mudah saya bisa kasih saran sebab tujuannya sangat jelas, dan ada beberapa cara mencapai tujuan tersebut, sepertui menggunakan pesawat Garuda, Batik Air, dan lain.

Kesimpulan ilustrasi tersebut adalah, tetapkanlah terlebih dulu tujuan dengan jelas, dan tools menyusul kemudian menyesuaikan keadaan.

Tools penilaian risiko k3

tools penilaian risiko k3

Didalam praktek penilaian risiko k3 sering ditemukan kekeliruan seperti ilustrasi diatas. Penggunaan tools seringkali dengan tidak memahami terlebih dahulu permasalahan yang dihadapi. Sering tidak disadari bahwa setiap tools yang dirancang oleh pembuatnya memiliki tujuan tertentu.

Saat ini banyak tools penilaian risiko yang dapat diperokeh di dunia maya, kalau kurang hati hati bisa akan menyebabkan pernasalahan yang sesungguhnya di tempat kerja dalam pengendalian risiko k3 tidak tepat sasaran.

Model Kecelakaan

Berkaitan dengan lineritas, ke segarislurusan antara tujuan dengan tools yang digukan, hal lain yang perlu di cermati adalah memilih accident model yang sesuai dengan permalahan yang kita harapi di tempat kerja. Seperti kita ketahuan banyak sekali accident model .

Setiap model memiliki kekhususan masing masing. Kekeliruan yang bisa dan mungkin sering terjadi adalah: ditemukan permasalah di tempat kerja adalah disain yang buruk dalam keteknikan peralatan atau mesin, lalu model yang dijadikan pegangan adalah model yang berkaitan dengan model manajemen sistem. Contoh lain, permasalah ventilasi tentu tidak akan tepat bila menggunakan teori swiss cheese semata. tentu perlu di kombinasi dengan model / teori lainnya,

Keselarasan yang lain, yaitu dengan kontrol yang diberikan. Kita bahas di postingan lain

Mudah-mudah bermanfaat walaupun singkat sekali.

 

Links

manajemen risiko k3

Pemahaman Singkat Manajemen Risiko

Penilaian Risiko K3. Pemahaman praktis