Penilaian iklim k3

Penilaian iklim k3

 

Penilaian iklim k3 Saat ini iklim k3 digunakan secara luas untuk menggambarkan kondisi budaya k3. Mungkin hal tersebut terjadi karena penilaian iklim k3 dapat dilakukan dengan cepat, mudah dan murah. Selain itu hasil penilaian iklim k3 bersifat inkonsisten, berubah ubah. Bila kemudahan tersebut difahami dan bukan untuk menggambarkan budaya k3, maka tujuan penilaian menjadi baik dan bisa bermanfaat. Namun bila memanfaatkan iklim k3 untuk maksud menggambarkan budaya k3 perusahaan adalah tindakan yang kurang tepat. Penilaian iklim k3 dan penilaian budaya k3 masing masing memiliki kekuatan dan kelamahan. Karena itu memanfaatnya keduanya haruslah pada tempatnya.

 

iklim k3, penilaian iklim k3

Grafik naik turun

Iklim k3

Yang penting diingat budaya k3 dan iklim k3 dua hal yang berbeda, walaupun memiliki kemiripan dalam prinsip dasarnya. Cara menilai budaya k3 dan menilai iklim k3 juga berbeda. Perbadaan sifat dari hasil penilaiannya yang paling menonjol adalah dalam hal kestabilan, konsistensinya dari waktu ke waktu. Ilklim k3 dia labil dan sangat mungkin berubah ubah dari waktu kewaktu. Hal tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor didalam perusahaan, dimana faktor-faktor tersebut mengakibatkan perubahan pada karyawan yang di survey. Oleh karena alasan tersebut hasil penilaian iklim k3, yaitu iklim k3, tidak tepat untuk menggambarkan status budaya k3 perusahaan. Beberapa tahun belakangan sejak banyaknya publikasi tentang budaya k3, maka banyak tumbuh kebutuhan untuk menilai budaya k3. Dalam perkembangannya berkembang konsep iklim k3 dimana ia lebih menggambarkan snapshot dari budaya k3. Dan penggunaan iklim k3 berkembang luas. penilaian iklim k3 banyak dilakukan. Karena kita memahami budaya k3 adalah tujuan bagi banyak kalangan, maka yang sering terjadi adalah iklim k3 dianggap sebagai budaya k3. Sementa kita mengetahui iklim k3 hanyalah merupakan potret sesaat dari gambaran budaya k3. Karena sifat iklim k3 yang sensitif terhadap perubahan, saya berpendapat sifatnya yang seperti itu dapat dimanfaatkan untuk membangun budaya k3. Yang diperlukan adalah sebelum memanfaatkannya tentu harus memahami faktor-faktor yang dapat menjadikannya berubah berubah. Karena itu sesungguhnya menggunakan iklim k3 dengan tepat dapat menghasilkan manfaat yang baik dalam menggembangkan budaya k3.

Memanfaatkan iklim k3

Dibalik kelemahan sifat dan karakteristik iklim k3 ada kekuatan yang dapat dimanfaatkan untuk tujuan yang bermanfaat untuk mengembangkan budaya k3. Hal ini bisa dijadikan tantangan bagi profesional k3, peruhaan dan konsultan k3 khususnya budaya k3.

Postingan yang mirip

Maturitas budaya k3

Tingkat Budaya K3

Tingkat Budaya K3

Pemahaman praktis tentang tingkat budaya k3.

Sebelum membahas tingkat budaya k3, ada baiknya kita mengenal pengertian umum dari kata budya, sebab rumpun keilmuan yang digunakan disini adalah rumpun budaya dari anthtropologi

Di dalam anthropology tingkatan budaya dikenal dengan dua polarisasi saja, atau dua tingkat seperti berbudaya atau tidak berbudaya. Di Indonesia yang paling dikenal luas tentang budaya adalah budaya gotong royong dan sebaliknya dari itu budaya egois. Atau lebih mudah sebut saja polarisasinya ke kanan atau ke kiri. Polarisasi dua arah. Kita menilai tingkatan atau kekuatan budaya tertentu tersebut dengan melihat gambaran pada anggota kelompok / komunitas tertentu berpolarisasi dominan kepada sisi yang mana.

Tingkat budaya k3

Awal diperkenalkannya istilah budaya keselamatan dan kesehatan kerja, tepatnya safety culture, tingkatannya hanya dua, yaitu: ber-budaya k3, tidak ber budaya k3, atau budaya k3 kuat dan budaya k3 lemah. Kemudian diperkenalkan pembagian 3 tingkat, seperti: tingkat pertama, budaya karena takut pada regulasi (budaya palu, ); kedua, budaya yang mulai karena sadar k3; ketiga, budaya yang contineous improvement. Kita juga bisa temukan pembagian empat tingkatan. Pembagian tingkat budaya k3 semakin berkembang, dan akhir-akhir ini pembagian tersebut yang populer adalah dengan sebutan maturiry yang dibagi menjadi lima tingkatan.

Pada dasarnya semua cara pembagian tingkat budaya k3 (keselamatan dan kesehatan kerja) seperti diatas adalah semuanya benar, tak ada yang salah, tak ada yang lebih bagus dan/ atau lebih buruk. Semuanya itu tergantung cara memandang, keluasan cara memandang dan kebutuhan. Mungkin saja nanti akan ada pembagian menjadi enam, tujuh tingkatan. Yang terpenting dalam pembagian tingkat budaya k3 tersebut tergambar ada gradasi peningkatan dari tingkat satu ke tingkatan dua, dan seterusnya.

Penilaian / pengukuran tingkatan

Penilaian budaya k3 menjadi beberapa tingkat bisa sangat berguna, terutama untuk menetapkan road map dalam perencanaan k3 perusahaan. Yang perlu kita garis bawahi adalah road map yang akan dibuat adalah jalan_k3 yang harus dilewati untuk mencapai status tingkat budaya k3 yang kuat. Budaya k3 harus dibangun dengan langkah langkah yang handal dan dukungan yang setimpal. Budaya k3 adalah sisi penglihatan pada aspek manusia, disisi lain k3 memerlukan iptek, dan keduanya memerlukan dukungan manajemen. Menilai hanya sisi manusia saja, tidak akan menggambarkan budaya k3 perusahaan, sebab “the way” untuk melaksana k3 yang baik tidak terpenuhi.

Pengukuran budaya k3 seyogyanya dapat mendeteksi semua keperluan perusahaan yang feasible untuk di tingkatkan di masa mendatang.

Satu hal yang terakhir perlu digaris bawahi adalah pengukuran tingkatan budaya k3 merupakan pendekatan kualitatif, sintesa dari upaya explorasi fakta lapangan oleh tenaga ahli. Explorasi merupakan upaya menggali fenomena, fakta lapangan yang bersifat terbuka. Artinya tenaga ahli yang turun ke lapangan dalam melakukan studinya tidak terlalu terikat dengan protokol yang dibuat sebelum turun ke lapangan. Mereka bisa jadi merubah protokol tersebut setelah menemukan fakta tertentu yang diluar perkiraan.

Semoga bermafaat.

tingkat budaya k3

Postingan yang mirip:

Maturitas budaya k3

Safety Culture Maturity.

Program k3 dan budaya k3

Pengalaman menarik berkunjung ke perusahaan

Pengalaman menarik berkunjung ke perusahaan

Budaya k3 kuat perusahaan

Budaya keselamatan kesehatan kerja

Diskusi ini arahnya melihat bagaimana budaya k3 kuat perusahaan. Sekitar awal tahun 2012 yang lalu saya mendapat pengalaman menarik dan bagus ketika berkunjung ke satu perusahaan asing yang berlokasi di kepulauan Riau. Ketika dalam pembicaraan telefon dikatakan kepada saya, bahwa perusahaan tersebut membutuhkan jasa konsultasi. Tetapi tidak dijelaskan bidang apa, topik apa, masalah apa ketika ditanyakan. Dikatakan kepada saya “nanti bapak lihat sendiri di lapangan”. :-). Setelah sampai di site, pihak perusahaan mengajak saya duduk bersama mereka menghadapi layar komputer. Mereka sambil menyajikan dan menjelaskan beberapa data berupa tabel, grafik tentang pencapaian upaya K3 (keselamatan dan kesehatan kerja) di perusahaan. Ketika itu juga didampingi oleh direktur utama perusahaan yang berkebangsaan Canada.Setelah sekitar 30 menit menyimak penyajian data dari komputer, saya masih belum mengerti apa yang mereka maksud berkaitan dengan kunjungan saya. Saya masih belum faham dalam hal apa saya bisa membantu mereka..

Kepedulian tinggi pada Nearmiss

Akhirnya saya bertanya, apa tugas dalam kedatangan saya ini. Saya hampir tidak percaya ketika mereka menjawab “kami ingin menghilangkan kejadian nearmiss itu pak, mohon dibari arahan”. “Hanya itu” tukas saya. “Ya betul” jawab si bule boss. Kami inginkan semua karyawan dan semua stakeholder kami bisa bekerja dan berpartner dengan tenang, tanpa kekuatiran karena semua hal-hal yang mengancam terkendali lanjutnya. Disampaikan juga pada saya bahwa mereka tak inginkan orang datang bekerja dalam kondisi baik, lalu pulang dalam keadaan menderita kecelakan dan gangguan kesehatan, walaupun kecil. Wah ..  so luar biasa saya berguman dalam hati.

Stop Pekerjaan, budaya k3 yang kuat

Untuk meyakinkan saya. boss bule langsung mengajak saya keliling site, melihat situasi langsung. Dan dikatakan kepada saya bahwa saya bebas mewawancarai semua karyawan baik dgn izin ataupun diam2. Sepanjang berkeliling, saya perhatikan hampir pada setiap tempat strategis ditemukan poster besar bertuliskan “stop pekerjaan, bila menemukan ada bahaya”. Saya berfikir pesan itu adalah untuk siapa saja karyawan yang membacanya. Artinya siapapun dan apapun jabatan karyawan disana dapat memutuskan “stop pekerjaan”. Lalu saya tanyakan bule tersebut, “Apakah pesan itu serius, dan bisa di eksekusi oleh tiap karyawan?. Apakah perusahaan tidak kuatir bila mereka diberi keleluasaan dan tanpa konsultasi terlebih dahulu”. Dia jawab santai “peruhaan pasti beruntung bila melakukan hal itu. mereka telah membantu perusahaan meningkatkan kinerja K3”. Rupanya karyawan disana sudah terlatih tentang hal itu. Karena untuk meyakinkan, saya minta waktu agar bisa keliling tanpa ditemani. dan saya leluasa bincang bincang langsung dengan karyawan. Benar sama pengakuan boss mereka dan karyawan. Setelah keliling site, akhirnya diskusi dikantor. dan dilanjutkan keesokan harinya. Setelah dua hari saya disana saya pamit pulang, dan ketika saya tanyakan laporan saya nanti seperti apa yang anda inginkan. Si bule menjawab, “kami tak membutuhkan paper, diskusi kemarin dan hari ini lebih dari cukup”.

Budaya K3 Kuat Perusahaan

Bagaimana sobat K3 pembaca menilai. seperti apa budaya k3 mereka. seberapa kuat budaya k3 yang mereka miliki?. Pengalaman yang saya alami sangat langka. dan baru kali ini saya mengalami dan melihat pengelolaan pekerjaan dengan mengutamakan safety dengan sangat tinggi.

Lihat juga link dibawah ini

Indonesia kembangkan Program K3 Nasional 2019-2024 Maturitas Budaya K3 Program k3 & budaya k3

Penilaian Budaya K3

Penilaian Budaya K3

Penilaian budaya k3, penilaian iklim k3

 

Ulasan tentang budaya k3 disini hanyalah berupa ulasan singkat, tidak bermaksud untuk menjelaskan hal mendasar, terutama tentang teori-teori. Disini lebih banyak menggambarkan seperti apa penilaian budaya k3 dan / atau penilaian iklim k3, kapan harus dilakukan, dan cara lain yang dapat menggantikan penilaian budaya k3. Semoga perspektif sahabat k3 yang lain dapat melengkapi.

Penilaian budaya k3 pada suatu lembaga dapat memberikan gambaran secara keseluruhan bagaimana perusahaan menganggap, bersikap dan bertindak dalam upaya k3. Yaitu gambaran seperti pemetaan di perusahaan. sehingga dapat tergambar seberapa kuat budaya k3 satu perusahaan, seberapa siap peruahaan akan menerapkan upaya k3. Siap dalam arti luas, termasuk siap dalam dukungan pendanaan, peralatan, sumber daya manusia yang kompeten, dan iptek. Disamping itu penilaian_budaya k3 juga bisa melihat variasi budaya didalam suatu perusahaan yang bisa disebut sebagai sub-budaya k3. Sub-budaya k3 bisa seperti dibawah ini:

Sub budaya k3

  • Sub budaya k3 secara horizontal, seperti: su budaya k3 tiap departemen, sub budaya k3 tiap divisi, dst.
  • Sub budaya k3 secara vertikal, seperti: sub budaya k3 pada manajemen atas, sub budaya k3 manajemen tengah, manajemen bawah, dan seterus sampai pada sub budaya k3 pada tingkat operator.

Variasi sub budaya k3 sangat mungkin bisa terjadi. Bila perbedaan begitu besar, maka pengaruh dari sub budaya k3 yang kurang baik dapat mempengaruh sub budaya k3 yang sudah baik. Atau bila perbedaan tersebut terjadi secara horizontal maka bisa menjadi hambatan proses manajemen k3. Dengan kata lain bisa menyebabkan putusnya rantai kendali, komando dari atas kebawah.

Kapan menilai budaya k3

Penilaian budaya k3 perusahaan sebaiknya mulai dilakukan setelah semua persiapan sistem manajemen untuk k3 telah dipenuhi terlebih dahulu. Dengan kata lain, pendekatan budaya k3 dalam mencapai kinerja k3 yang baik merupakan finishing dari semua upaya k3. Banyak alasan untuk itu, dan alasan yang paling mendasar adalah terbentuknya budaya k3 memakan waktu yang cukup lama (mungkin sampai beberapa tahun). Karena itu, sebelum persiapan diatas belum terpenuhi maka di kuatirkan budaya k3 belum terbentuk, dan penilaiannya tidak tapat sasaran.

Pengukuran iklim k3

Bila sistem manajemen untuk k3 diyakin belum berjalan dengan baik, cara lain yang dapat menggantikan pengukuran budaya k3 adalah penilaian iklim k3. Berbeda dengan budaya k3, penilaian iklim k3 dapat menggambarkan values sesaat. Artinya values dalam periode pendek tertentu. Yang perlu digaris bawahi kembali adalah gambaran iklim k3 adalah gambaran yang lemah, inkonsisten, kurang dapat diandalkan. Persepsi respon yang menjawab kuesioner sangat mudah dipengaruhi faktor faktor kemanusiaan, bahkan lebih dari persepsi itu bisa di seting agar menuju pada persepsi tertentu.

Salam, walaupun singkat, mudah2an bermanfaat.

Tautan yang mirip:

Program k3 dan budaya k3

Maturitas budaya k3Safety Culture Maturity

 

Melihat praktek budaya k3 perusahaan

Melihat praktek budaya k3 perusahaan

Melihat praktek budaya k3 perusahaan

Melihat praktek budaya k3 perusahaan. Anda sering mendengar dan membaca tulisan di lingkungan anda sendiri, kadang kala tulisan itu ditulis dengan huruf yang besar dan ditempatkan dibeberapa tempat. Ini kita sebut slogan untuk membangun budaya k3 perusahaan, yel yel untuk mengingat dan bahkan menanamkan tata nilai pada setiap diri akan pentingnya menjaga Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Dari hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun yel yel tersebut selalu ditanamkan melalui tulisan. Pertanyaannya, sudahkan tertanam nilai tersebut di seluruh jajaran perusahaan?. Mulai dari manajemen tingkat teratas sampai yang terbawah, yaitu karyawan?

Atau bagaimana menurut anda, apakah pimpinan anda juga menghayatinya?.

Utamakan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Slogan utamakan keselamatan dan kesehatan kerja, juga sering kita dengar dengan sebutan lain yaitu “Safety First”. Intinya sama saja, yaitu memberi penekanan pada pengutamaan pada penerapan K3. Penerapan K3 yang dimaksudkan utama, tentu memerlukan persyaratan persyaratan yang standar. Dengan kata lain pengutamaan penerapan K3, juga termasuk pengutamaan dalam hal pemenuhan semua persyaratan yang diperlukan untuk pelaksanaan K3. Kalau tidak demikian kenyataannya, maka slogan tersebut berhenti sebatas slogan. Buktinya dalam praktek tidak terlihat.

Utamakan K3, mengantarkan perusahaan kepada budaya k3 yang kuat

Slogan utamakan, bila tertanam menjadi nilai utama didalam setiap diri karyawan perusahaan (termasuk pimpinan), maka akan menghasilkan keseriusan yang berdampak positif pada pelaksanaan k3. Semua persyaratan yang diperlukan baik sisi dukungan manajemen, sampai pada dukungan teknis untuk kelancaran pelaksanaan k3 yang baik.

Begitu juga dukungan sumber daya manusia sebagai unsur terpenting didalam sistem kerja berada dalam kondisi terdidik, memiliki kompetensi yang cukup. Sehingga tanpa banyak slogan, yel yel, mereka tetap bekerja dengan pengutamaan k3 yang prima.

Budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Kondisi yang dijelaskan pada alinea diatas, dimana semua kebutuhan didalam sistem manajemen dan program kerja berjalan dengan prima. Berjalan pada semua lini, baik secara vertikal maupun horizontal di perusahaan. Tak ada keraguan lagi pada kondisi ini, prima dalam setiap pekerjaan, dan prima juga dalam hal menjalankan keutamaan k3. Inilah kondisi ber budaya k3 perusahaan yang kuat.

Sesederhana itu kah?. Ya. seperti. bukannya yang dituju pengutamaan k3 didalam setiap melaksanakan pekerjaan. Tentu ada catatan sebagaimana yang dilakukan pada aspek manajemen apapun, hal itu juga berlaku pada manajemen k3. Fungsi fungsi manajemen secara sungguh sungguh mendukung untuk tercapainya kondisi yang dipersyaratkan mencapai budaya k3 perusahaan yang kuat.

Leadership K3

Sebagaimana halnya budaya budaya lainnya, values / tata nilai yang terkait k3 juga memerlukan penggerak dan penggerak itu adalah pemimpin. Kepemimpinan k3 merupakan role model di kalangan karyawan. Mereka akan diikuti dan dituruti. Untuk memperoleh keberhasilan yang baik dalam mengembangkan budaya k3 perusahaan tentu harus mempersiapkan pempimpin pemimpin dalam k3.

Mereka disamping memiliki values yang positif, juga mememahami bagaimana program k3 berfungsi seperti bagaimana mestinya.

Simak postingan berikutnya .

Baca juga link dibawah ini:

 

Program k3 dan budaya k3

Budaya Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

Pengalaman menarik berkunjung ke perusahaan

Safety Culture Maturity

Maturitas Budaya K3

Maturitas Budaya K3

MATURITAS BUDAYA K3

Pengukuran budaya k3, untuk menilai maturitas budaya k3 atau tingkat budaya k3 pada dasarnya hanya menunjukkan dua polarisasi seperti: budaya k3 kuat dan budaya k3 lemah, tidak ber budaya k3 dan ber budaya k3. Didalam masyarakat kita mengenal tentang korupsi, dikaitkan dengan budaya maka kita menyebutnya berbudaya korupsi dan tidak berbudaya korupsi. Budaya rajin belajar, budaya malas. dan seterusnya. Berjalan waktu budaya k3 makin berkembang sebagian kajian keilmuan dan praktek, begitu juga tingkatannya berkembang dari dua tingkat, tiga tingkat, empat dan lima.

Maturitas secara umum

Secara umum kematangan dapat dibagi tingakatannya seperti dibawah berikut,

  1. ignore
  2. tahu
  3. mengerti
  4. memahami
  5. menghayati
  6. terlibat
  7. belajar terus menerus

Esensinya adalah tingkatan kematangan dimulai dari tingkat yang terendah sampai tertinggi. Bila disederhanakan menjali dua tingkatan maka bisa digambarkan sebagai: point 1,2,3 dan 4 kita sebut tingkatan rendah, dan  point ,5, 6 dan 7 tingkatan tinggi. Saya sering juga menyebutnya maturitas budaya k3 seperti diatas dengan sebuatan sederhana sebagai mature dan inmature.

Maturitas  2 tingkat

  1. budaya k3 lemah
  2. budaya k3 kuat

Maturitas 3 level

  1. Abai
  2. Regulasi
  3. Cont Improvement

Maturitas 5 level

Beberapa tahun terakhir ini, maturitas 5 tingkatan banyak digunakan. Banyak versi yang dapat kita temukan. Salah satu model yang poluler digunakan adalah model yang dibuat oleh Keil Centre, 1999. Untuk menggambarkan maturitas budaya k3 mereka buat seperti urutan dibawah ini:

  1. Emerging
  2. Managing
  3. Involving
  4. Cooperating
  5. Continually improving

Prinsip Pengukuran tingkatan budaya k3

Diatas digambarkan aneka variasi tingkatan maturitas budaya k3. Yang penting diingat adalah masing-masing model / variasi diatas dibuat berdasarkan kebutuhan yang ditemukan dan dipikirkan oleh pembuatnya. Artinya konteks yang mereka hadapi di perusahaan mereka disesuaikan dengan model yang mereka susun. Karena itu tidak mengherankan bila ditemukan banyak variasi kita temukan yang beredar. Bila kita tak memahami apa yang kita inginkan maka kita akan kebingunan sendiri dalam memilih.

Begitu banyak model, semua mengakui bagus. Yang mana yang bagus yang sejalan dengan problematik, konteks yang sedang kita hadapi di perusahaan. Memilih salah satu dari variasi tersebut diatas tentu akan mempermudah pekerjaan, namun memahami apa yang kita hadapi dan merancang sendiri jalan keluarnya maka itu akan lebih baik. Membuat kriteria, moldel tingkatan yang match dengan konteks yang dihadapi juga bisa.

Model yang beredar secara luas diatas seringkali dilengkapi dengan tools pengukur yang disesuaikan dengan konsepnya masing-masing. Yang sering mengecohkan adalah sikap yang mengandalkan tools daripada mengandalkan pemahaman apa yang kita inginkan, apa yang akan kita ukur. Ini merupakan cara berfikr yang terbalik. Mungkin hal dibawah ini bisa digunakan sebagai panduan agar apa tujuan dan apa yang kita inginkan sesuai dengan konsep dan tools yang digunakan.

  • Kita bisa mengukur apa yang kita tahu, apa yang kita inginkan. Kuncinya adalah kita tahu apa yang akan kita ingin ukur. Keinginan tersebut kita yang menetapkan. Tools bisa di pilih kemudian, bahkan dibuat khusus untuk menjawab keinginan kita dengan mengikuti metodologi yang benar.
  • Pengukuran maturias budaya k3 lebih bersifat eksploratif dibandingkan dengan pembuktian. Eksplorasi fakta lebih mengandalkan kemampuan ahli menggali fenomena, tema / tematik dilapangan. Hal ini lebih merupakan kesimpulan peneliti, ahli.
    Bandingkan dengan sisi lain pembuktian lebih bersifat mencari kesesuaian hal hal yang diasumsikan ada dilapangan, dan banyak mengandalkan pengumpulan persepsi / pandangan responden dengan menggukan kuesioner. Hal ini lebih merupakan kesimpulan statistik dari pandangan karyawan.
  • Eksplorasi dilengkapi pembuktian akan lebih baik.

Metode Pengukuran level budaya k3

  1. Seperti bahasan pada alinea diatas, pengukuran maturitas budaya k3 gabungan antara pendekatan “kuantitatif” dan “kualitatif”
  2. Tools, Jangan teralu terpaku pada tools. Artinya jangan sampai tools yang ada menyetel keinginan kita dalam mengukur. tetapi harus dibalik tools tersebut kita buat agar bisa memenuhi keinginan kita, agar bisa menjawab objektif yang sedang kita permasalahkan.

 

Mudah2an tulisan singkat ini dapat menyumbang saran, menambah wawasan,

Tautan:

Program k3 dan budaya k3

Budaya Keselamatan Kerja

Budaya Keselamatan Dan Kesehatan Kerja