Author Archives: Admin

Manajemen Risiko sebagai upaya Inti K3

3 Aug , 2018,
Admin
No Comments

Manajemen Risiko Yang Terlupakan

Upaya inti dari pelaksanaan K3 terletak pada penatalaksaan manajemen risiko di tempat kerja. Bila hal itu dilaksanakan dengan tepat dan baik, maka kondisi ditempat kerja akan mencapai kondisi terbebas dari ancaman “kecelakaan” dan “gangguan kesehatan”. Namun sayangnya praktek di lapangan kerja hal ini tidak mendapat porsi yang baik, sehingga tenggelam didalam upaya upaya k3 yang lain yang bersifat asesoris.

Asesoris yang paling menonjol di lapangan bisa kita lihat beberapa seperti berikut:
1. Aneka ragam sistem Audit. Mulai dari aneka ragam sistem audit yang tersedia didalam negeri, sampai pada sistem audit yang disediakan provider luar negeri.
2. Program-program yang dipatenkan oleh jasa provider, terutama provider dari luar negeri.
Hal-hal inilah yang menghabiskan energi pihak manajemen perusahaan, sehingga lupa kepada hazard yang sebetulnya nyata ada dilapangan kerja dan memerlukan penata-laksanaan yang tepat dan baik. Yang lebih memprihatinkan adalah lemahnya pemahaman karyawan yang dilibatkan dalam manajemen risiko, sehingga pengenalan hazard, analisis risiko bahkan sampai kepada pengendalian yang diterapkan tidak tepat sasaran.

Manajemen Risiko dan Biaya Tinggi

Penerapan manajemen risiko yang kurang tepat akan berakibat tempat kerja, operasi di perusahaan tidak terbebas dari kecelakaan dan gangguan kesehatan. Disisi lain upaya yang berlebih dikerahkan untuk yang bersifat asesoris dalam menangkal kecelakaan dan gangguan kesehatan. Biaya yang tinggi pada aspek asesoris tidak menghasilkan penekaan risiko pada harapaan yang sesungguhnya. Akibatnya terjadi pemborosan, biaya tinggi terbuang agak percuma.

Beberapa Saran

Kami menyarankan agar semua pihak di tempat kerja menyadari bahwa yang sangat kita perlukan adalah menerapkan manajemen risiko sebagai prioritas utama. Karena itu, manajemen risiko harus dibenahi terlebih dahulu, dilakukan oleh orang / kelompok orang yang kompeten, dengan cara yang baik dan teliti. Setelah dilakukan kajian, dan dirasakan masih memerlukan program tambahan sebagai penguat terlaksanakan manajemen risiko, maka disitulah saatnya mengambil program tambahan.

Budaya K3, Budaya Keselamatan Dan Kesehatan Kerja, Budaya Keselamatan, Iklim Keselamatan, Iklim K3

Budaya Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

29 Sep , 2017,
Admin

No Comments

Budaya Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

Pengertian Budaya Secara Umum

Sebelum membicarakan Budaya Keselamatan Dan Kesehatan Kerja ada baiknya kita memahami secara singkat tentang apa itu Budaya. Mungkin anda pernah mendengar pada suatu komunitas disebut memiliki budaya rajin dan budaya malas belajar, ada lagi sebutan budaya tani, budaya dagang, dan seterusnya. Kita ambil contoh pada satu masyarakat terdapat Budaya Rajin Belajar. Pada masyarakat tersebut akan kita dapatkan hampir seluruh lapisan masyarakatnya berfikir, bersikap dan berperilaku belajar dengan nilai yang konstan, yaitu selalu rajin. Dan hal tersebut mereka lakukan dari hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun, atau kita katakan rajin itu dilakukan secara konsisten.

Terdapat tanda kuat pada masyarakat tersebut yang menunjukkan mereka memiliki budaya rajin, yaitu: Pertama, mayoritas atau hampir seluruh masyarakatnya belajar rajin. Bila hanya sebagian kecil saja yang belajar rajin maka kita tidak bisa sebut itu budaya rajin; Kedua, ada yang kita sebut nilai dalam belajar tersebut, yaitu nilai rajin. Budaya sesuatu digambarkan dari nilai yang dianut suatu kelompok; Ketiga, sikap dan perilaku masyarakat tersebut akan selalu sejalan dengan nilai yang dimiliki (yaitu belajar rajin) dan perilaku serta sarana yang dimiliki menunjang budaya rajin belajar tersebut; Keempat, konsisten dari masa ke masa. Bila kerajinan dalam belajar dilakukan hanya sesaat, apalagi karena faktor pengaruh dari luar, misalnya karena ada perlombaan maka kita tidak bisa sebut mereka berbudaya rajin.

Mungkin gambaran diatas sudah cukup memberi pemahaman dasar tentang pengertian budaya secara umum. Sekarang mari kita lihat kepada budaya keselamatan dan kesehatan kerja sambil kita lihat komponen dasar budaya k3 tersebut.

Budaya Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

Sama halnya dengan budaya rajin pada penjelasan diatas, budaya K3 harus memiliki 4 ciri seperti diatas. Namun disini akan disebutkan satu nilai yang utama dalam budaya K3, yaitu “mengutamakan K3”, “keberpihakan pada K3”, “mengutamakan keselamatan”,  atau “safety first”. Anda mungkin sering melihat poster, banner besar yang dipasang oleh perusahaan ditempat tempat strategis yang bertuliskan “UTAMAKAN KESELAMATAN KERJA”. Pesan tersebut sebenarnya adalah nilai yang ingin diterapkan, walaupun pada prakteknya pesan tersebut hanya sebatas slogan, atau meniru-niru, latah dengan perusahaan lain, sementara pemahaman dan penerapannya tidak seperti yang seharusnya.

 

Budaya K3, Budaya Keselamatan Dan Kesehatan Kerja, Budaya Keselamatan, Iklim Keselamatan, Iklim K3

Budaya K3 lebih stabil, karena itu lebih bisa diandalkan.

Sedangkan Iklim K3  lebih menunjukkan situasi permukaan, ia lebih labil, bisa berubah-ubah dari waktu ke waktu seperti layaknya iklim atau cuaca.   

 

Mengutamakan K3 vs Mengabaikan K3

Perusahaan yang memiliki Budaya K3 yang kuat maka nilai yang harus dimiliki adalah mengutamakan K3 itu sendiri. Sebaliknya perusahaan yang memiliki budaya K3 yang lemah maka nilai yang dimilik adalah mengabaikan K3.

Dengan demikian mudah sekarang di fahami, bahwa bila perusahaan memiliki budaya K3 yang kuat maka semua persyaratan yang diperlukan untuk menyukseskan K3 akan sejalan dengan nilai yang dimiliki, yaitu mengutamakan dukungan pada semua persyaratan tersebut. Misalnya dukungan manajemen pada Sistem manajemen pada semua elemennya, pada semua program yang dibutuhkan, pada semua SDM yang diperlukan kompetensi K3 nya, pada infra struktur lainnya.

Budaya K3 atau Iklim K3?

Ada istilah Budaya K3 (Safety Culture) dan juga sering anda mendengar istilah Iklim K3 (Safety Climate). Apakah perbedaan diantara keduanya?

Budaya K3

Secara singkat dapat dikatakan Budaya K3 dia lebih stabil, konsisten dari masa ke masa, lihat persyaratan keempat diatas!. Biasaya lebih sulit melakukan asesmentnya, sebab memerlukan Ahli yang berpengalaman. Tool yang digunakan untuk menilai budaya tidak terlalu penting, tool yang paling kuat dan penting adalah keahlian dan pengalaman asesornya itu sendiri. Oleh sebab itu kita jangan keliru membedakan antara budaya dan iklim.

Iklim K3

Iklim merupakan snapshot saja dari budaya K3. Sebagaimana nama yang digunakan, yaitu Iklim, maka ia bersifat tidak permanen, tidak stabil, tidak konsisten dari waktu ke waktu. Dengan kata lain dikatakan seperti ini: “bila iklim diukur bulan Januari, maka pada bulan Maret atau bulan lainnya bisa berubah statusnya”. Sangat berbeda dengan budaya K3, dia stabil dari waktu ke waktu. Cara mengukur iklim K3 jauh lebih mudah, yaitu menggunakan kuesioner, dengan kata lain penilaian iklim K3 mengandalkan tool kuesioner. Dan jawaban pada kuesioner tersebut merupakan persepsi dari orang-orang yang dijadi sampel di dalam survey dimana persepsinya sangat dipengaruhi oleh kondisi diluar dirinya. Misal, di tekan oleh atasan agar menjawab yang sesuai keinginan, iming iming, rasa takut, sedang gembari atau puas pada perusahaan dan lain sebagainya.

 

Chandra Satrya

www.satrya.net

Jaringan Profesional Linkedin

Praktek Penilaian Risiko yang kurang tepat

9 Jun , 2016,
Admin

No Comments

PENDAHULUAN

Praktek penilaian risiko seperti HIRA (Hazard Identification and Risk Assessment) sebenarnya bisa disebut dengan singkat sebagai Risk Assessment atau Penilaian Risiko saja. Kita juga sering melihat sebutan lainnya seperti IBPR (Identifikasi Bahaya dan Penilaian Risiko), HIRADC (Hazard Identification, Risk Assessment, Determining Control). Semuanya sama, hanya berbeda penamaan yang sering membingungkan pemula dan mengira hal tersebut masing masingnya harus dipelajari secara terpisah.

Risk Assessment, penilaian risiko, risk management, manajemen risiko

Penilaian Risiko